|

JUBI - Forum Kerja sama (FOKER) Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Papua, gelar lomba menggambar dan mewarnai di ikuti Sekolah Dasar dan Taman Kanak-kanak se-kota dan kabupaten Jayapura.
Antusias anak-anak Taman Kanak-kanak dan Sekolah Da-sar terlihat ketika mengikuti Lomba gambar dan Mewarnai yang di selenggarakan Forum Kerja sama Lembaga Swadaya Masyarakat (FOKER-LSM) Papua dan Tabloid JUBI.
“ Mama, mama sa su gambar ni, pohon ni warna apa boleh ?” terdengar suara teriak seorang anak dari dalam tempat lomba. Lomba menggambar dan mewarnai yang di selenggarakan dilantai tiga mall Borobudur sentani ini di ikuti 200 peserta yang di bagi dalam 3 bagian. Perkelas Tingkat TK dan tingkat SD,berlangsung meriah anak-anak dan Orang tua yang antusias mamadati tempat kegiatan. Terlihat anak-anak yang tidak mau di tinggal orang tuanya merontak dan menangis meminta mamanya untuk tinggal bersama dengannya di dalam tempat lomba namun aturan Panitia mengharuskan orang tua harus meninggalkan anaknya, tak heran jika anaknya harus mengangkut meja gambarnya dan mengikuti lomba di luar area yang sudah di buat Panitia. “ Mama-mama sa malas, mama di sini saja “ tangisan dan rengehan salah seorang anak. “ Dia tra mau k2 kastinggal dia di sini jadi, itu yang bikin dia menangis,” ungkap salah se-orang orang tua peserta kepada JUBI di lokasi kegiatan lomba. Arry Maniagasi (11) saat di hampiri Jubi dengan senyuman ia menyapa saya, “ Kaka kenapa dekat-dekat saya, mo lihat saya punya gambar kah ?,” tanya Arry sambil tertawa kecil.. terlihat di wajahnya terpancar kegembiraan teman-temannya yang berada di kiri, kanan Arri pun ikut tertawa ketika arri menanyakan hal itu kepada saya. Arri mengatakan sangat senang bisa mengikuti kegiatan ini karena dapat berkumpul bersama dengan teman-teman yang lain dan juga bisa belajar lebih dalam tentang menggambar “ Saya senang bisa mengikuti kegiatan ini karena bisa kumpul dengan saya punya teman-teman yang lain sama saya bisa belajar banyak lagi untuk menggambar,” ungkapnya sambil menyiapkan peralatan lombanya. Sekertaris Eksekutif Foker LSM Papua Septer Manufandu dalam sambutan-nya sekaligus membuka kegiatan menggambar dan mewarnai tersebut, mengajak anak-anak agar dapat turut ambil bagian dalam melestarikan alam sekitar dengan ikut menanam dan memelihara pohon di sekitar lingkungan rumah mereka sesuai dengan Tema “ Alam Sekitar Kita “. Septer me-ngajak agar selesai dari kegiatan menggambar ini peserta pulang dan sampaikan kepada orang tua agar dapat menanam pohon. “ Adik-adik nanti pulang bilang mama dengan bapa supaya bisa menanam pohon dan bunga di samping rumah, bisa to ?,” ajak manufandu dalam sambutannya. “ Kam senang kah tidak ikut kegiatan ini ?,” tanya manufandu kepada para peserta lomba denga antusias dan teriakan “ Senang......senang” suara peserta lomba ketika di tanya. Tujuan dari kegitan ini sediri bertema “ Alam Sekitar Kita “ hal ini di maksudkan agar anak-anak lebih mengenal dan menjaga kelestarian alam sekitar kita, karena melihat Papua merupakan salah satu Paru-Paru Dunia setelah Rusia dan Brasil. hal ini di fokuskan kepada anak-anak SD dan TK karena kelak merekalah yang akan menjadi penerus bangsa ini. sehingga pengenalan akan lingkungan sangat penting demi menjaga dan melestarikan hutan sekitar mereka dan terutama Hutan Papua. Penebangan liar di Provinsi Papua terus berlangsung dan diperkirakan tahun 2020 hutan Papua habis. Saat ini tiap bulan 300 ribu meter kubik kayu ditebang dari wilayah itu sehingga tiap tahun 1 juta hektare hutan rusak. Berdasarkan catatan organisasi lingkungan Telapak, daerah paling parah yang mengalami eksploitasi hutan adalah Manokwari, Teluk Bintuni, Sorong Selatan, dan Kaimana. masalah utama terjadinya penggundulan hutan terletak pada kelemahan aparat penegak hukum. Gubernur Papua Barnabas Suebu dalam Konferensi Internasional Keaneka-ragaman Hayati di Jayapura,belum lama in mengatakan dari 41,25 Juta hutan yang tersisa, 50 persen di antaranya adalah hutan konservasi, 30 persen di antaranya adalah hutan konversi dan 20 persen sisanya hutan lindung. Dalam kurun waktu 2003 hingga sekarang lebih dari 5,8 juta hektare hutan Papua rusak. Saat ini Papua masih memiliki 41,25 juta hektare hutan. Hal tersebut yang membuat FOKER LSM Papua dan Tabloid Jubi tergerak untuk dapat untuk mengantisipasi dan mengatasi hal ini dengan mengenalkan akan lingkungan sekitar kepada anak-anak agar ke depan mereka dapat menjaga dan melestarikan hutan mereka. Akhir lomba Panitia mengadakan doorprise bagi para peserta melalui undian yang di cabut oleh perwakilan orang tua peserta, dorprise ini sendiri berlangsung begitu meriah anak-anak dan para orang tua yang menyaksikan, berharap nomor undian yang di cabut nomor mereka dengan tegang mereka mendengar dan menunggu. terlihat ketika salah seorang perwaklian orang tua yang mencabut undian menyebut nomor 47 dengan semangat seorang anak berlari “ Ada....ada.....nomor 47 to, itu saya punya,” seorang anak laki-laki berumur 11 tahun dengan semangat berlari menghampiri panitia. Juri pada kegiatan ini sendiri saat di hampiri JUBI mengatakan penilain yang mereka buat pada dasarnya tidak sama dengan lomba lukis orang-orang dewasa pada umumnya, lomba ini hanya menilai tentang keserasian, warna dan teknik mewarnai. karena mereka masih anak-anak “ Kita menilai tidak harus sama dengan lomba lukis orang dewasa di sini hanya menilai tiga saja. keserasian, warna dan juga teknik mewarnai,” ujarDon Moiweud salah seorang juri. Don menambahkan lomba menggambar sendiri harus sesuai dengan tema yang di tentukan oleh Panitia. supaya apa yang di harapkan dari kegiatan ini dapat tercapai yaitu pengenalan akan lingkungan sekitar terhadap anak-anak usia dini. Begitu pula yang disampaikan lakadir salah seorang Juri dalam perbincangannya dengan JUBI ia mengatakan kegiatan-kegiatan seperti begini harus di adakan setiap tahun untuk lebih mengenalkan pelestarian lingkungan dan terutama terhadap dunia seni kepada anak-anak, karena melihat jaman yang makin modern ini banyak anak-anak kita yang sudah mulai melupakan budaya dan juga identitas diri mereka sendiri untuk itu melalui kegiatan ini di harapkan ada kesadaran akan pentingnya alam sekitar kita di Papua dan yang terutama lagi pengetahuan tentang kesenian di Tanah Papua akan terus terjaga dan terpelihara dengan baik sehingga kedepan anak-anak kita tidak akan melupakan seni yang begitu kental di Tanah Papua. “ Kegiatan-kegiatan seperti begini harus di adakan setiap tahun, supaya ke depan masyarakat lebih menghargai seni,” harap Lakadir. Lebih lanjut ditegaskan sebaiknya perlombaan gambar seperti ini dilakukan lebih banyak lagi agar kecintaan anak anak terhadap seni menggambar semakin merakyat. Memang sampai saat ini kegiatan lomba gambar dilakukan tidak secara rutin tapi hanya bersifat insidentil kalau ada perayaan hari besar atau mungkin juga kampanye kesadaran lingkungan. Lomba gambar ini penting agar anak anak sudah mulai terbiasa bersosialisasi dengan teman sebaya mereka dan juga sama menyadari pentingnya kampanye tentang selamatkan lingkungan dan sumber daya alam di Tanah Papua. Kalau ksesadaran tentang lingkungan dimulai sejak usia dini sudah pasti mereka akan terus mengingatkan orang tua mereka atau pun guru di sekolah, kalau menanam pohon itu penting bagi keselamatan lingkungan di sekitar mereka.Sekretaris Eksekutif Foker LSM Septer Manufandu menambahkan kegiatan menggambar alam sekitar ini bisa memberikan pemahaman bagi anak anak tentang mencintai lingkungan. Kegiatan mengambar dan mewarnai,berlangsung atas kerjasama Bank Mandiri cabang sentani, Dunkin Donut’s,Bank Papua, Happy Kiddy, Time Zone Toko Buku Karisma, Tabloid JUBI dan Foker LSM Papua (JUBI/Ronald Manufandu)
|