|

Tuntutan akan pengembangan kinerja yang profesianalisme yang dilandasi oleh etos dan dedikasi kerja merupakan kata kunci untuk membangun sebuah manajemen kelembagaan dan organisasi dengan prinsip akuntabilitas, responbilitas dan transpransi yang mutlak memjadi bagian dari budaya organisasi tersebut. Harapan tersebut akan muncul jika lembaga/organisasi mampu membangun “aturan” main organisasi.
Sehingga dalam menjalankan mandat sosial maka harus dapat diterjemahkan dalam siklus kerja dimana memulai dari sebuah perencanaan, implementasi, refleksi, minitoring dan evaluasi ini lah yang merupakan sebuah siklus kerja yang akan di hadapi oleh setiap lembaga untuk mengukur sejauhmana kerja-kerja kelembagaan mampu memenuhi kebutuhan internal dan konstituennya.
Merujuk akan uraian di atas, salah satu point penting yakni perlu adanya sebuah evaluasi kinerja baik pada tingkat manajemen dan program. Evaluasi kinerja ini merupakan hal yang lazim di lakukan oleh setiap lembaga/organisasi. Dalam kerangka kelembagaan, evaluasi di percayai atau di maknai akan melahirkan ”nuansa” baru dan membangun dinamika kerja ke depan dengan mengidentifikasi kelemahan dan kekuatan selama periode tertentu baik itu pada aspek sumberdaya manusia, program kerja, pendanaan mau pun jaringan kerja serta konstituen dari lembaga tersebut.
Sedangkan evaluasi dampak program kerja terhadap partisipan (khusus) dan masyarakat Papua (umum) dilakukan untuk mengetahui seberapa jauh manfaat yang didapat dari program kerja yang dilakukan oleh Foker LSM Papua selama ini. Selain itu, evaluasi dampak program ini perlu dilakukan untuk memperbaiki mekanisme kerja berjaringan yang telah dilakukan selama ini agar manfaat dan tujuan program yang diharapkan bisa lebih “membumi” pada masyarakat Papua secara umum.
Berangkat dari hal tersebut, Forum Kerjasama (FOKER) LSM Papua sebagai sebuah lembaga jaringan atau forum LSM Papua mempercayai bahwa hanya dengan melakukan ”ritual” evaluasi kelembagaan dan dampak program, mampu menjawab tantangan ke depan yang dihadapinya. Evaluasi kinerja yang di laksanakan oleh Foker LSM Papua bagian dari mekanisme kontrol terhadap proses-proses implementasi yang diselenggarakan oleh Sekretaris Eksekutif bersama jajarannya (secara substansi : instrumen untuk menyampaikan gagasan dalam bentuk kritik atau masukan atas capaian kerja Foker LSM Papua selama ini), hal ini berdasarkan Standar Operasional Prosedur (SOP) monitoring dan evaluasi FOKER.
Evaluasi program 2009 ini dilaksanakan selama dua hari (23-24 Februari 2010) di Jayapura. Dalam proses evaluasi masing-masing divisi, LO, korwil dan ketua pokja telah menyampaikan laporan hasil kerja selama satu tahun, Januari – Desember 2009. Selanjutnya dilakukan diskusi untuk membangun mekanisme dan strategi kerja untuk proses-proses advokasi pada jaringan FOKER baik pada tingkat Wilayah, Regional, dan Nasional serta International.
Peserta yang akan mengikuti evaluasi ini, terdiri dari : • Steering Commitee (SC) • Sekretaris Eksekutif (SE) beserta stafnya • Koordinator Wilayah (Korwil) • Ketua-Ketua Kelompok Kerja (Pokja) : Hukum & HAM, Masyarakat Adat, PSDA, Good Governance, Perempuan dan Anak, Kesehatan & HIV/AIDS. • LO Foker LSM Papua • Aktivis LSM
|